So, welcome to my blog, again. Dimana kali ini, isi dari postingan ini agak berbeda dari sebelumnya. Karena, saya akan membahas sebuah karya yang saya buat. Pasti dari judul kalian sudah tahu apa nama dari alat ini. Ya, ini adalah Earthquake Alarm atau Alarm Gempa. Sebenarnya ini adalah karya dari tugas Ujian Praktik IPA, namun apa salahnya jika saya kenalkan alat ini ke kalian.
Nah, berkaitan tentang postingan sebelumnya yang bersangkut paut tentang pemanasan global, alat ini juga mendukung postingan tersebut, dimana bahan yang diperlukan dari alat ini berasal dari barang yang sudah tidak terpakai. Artinya memanfaatkan barang bekas yang nantinya bisa menumpuk menjadi sampah dan berubah menjadi gas metana yang dapat menyebabkan efek rumah kaca.
Alarm ini berfungsi sebagai peringatan dini pada awal terjadinya gempa. Nah, did you know? Alat ini menerapkan perpaduan materi antara materi gerak pada IPA kelas 8 dan IPS tentang geografi Indonesia.
So, why did I make it? Kita tahu Indonesia merupakan salah satu negara yang dijuluki sebagai "Ring of Fire" yang artinya lintasan dimana terdapat deretan gunung api sehingga tak mengherankan sih jika negara yang dilewati cincin api ini sering mengalami gempa, baik gempa tektonik maupun vulkanik. So, that's why I make it.
Tapi bagaimana sih cara membuatnya? Nah, sebelum memasuki tahap pembuatan kita harus menyiapkan bahan-bahannya terlebih dahulu. Seperti:
- Bandulan dari mur
- Serabut tembaga
- Kabel
- Baterai 9 Volt
- Konektor baterai 9 Volt
- Sakelar
- Kawat berbentuk peniti
- Sirine bekas
- Papan
Untuk sirine saya menggunakan bekas dari bel sepeda dan papan yang terbuat dari polikarbonat twinlite karena selagi mudah untuk dirakit, papan ini kokoh karena disusun atas dua lapisan.
Lalu cara membuatnya sebagai berikut:
- Potong papan sesuai kebutuhan
- Rakit papan menggunakan lem tembak
- Kemudian, rakit seluruh komponen elektronya, antara lain:
- Kabel baterai yang dialiri listrik bermuatan positif dihubungkan dengan sakelar, sedangkan yang negatif dihubungkan dengan sirine.
- Dari sakelar keluar kabel yang kemudian dihubungkan dengan kawat berbentuk peniti.
- Lalu, serabut tembaga yang digunakan sebagai penggantung bandulan dihubungkan menggunakan kabel menuju sirine.
- Tekan tombol "On" pada sakelar.
- Bila ada goncangan, maka bandul akan bergoyang sehingga serabut tembaga yang dialiri listrik bermuatan positif akan bersentuhan dengan kawat berbentuk peniti yang dialiri listrik bermuatan negatif. Dampaknya sirine akan mengeluarkan bunyi secara terputus-putus.
- Bila ada goncangan yang besar sampai mengakibatkan alat ini dalam posisi miring, maka serabut tembaga akan menempel terus pada kawat berbentuk peniti. Dampaknya sirine akan meraung-raung terus.
Nah, mungkin itulah sedikit penjelasan saya mengenai alat ini. Saya sangat berharap jika seluruh generasi penerus bangsa terus bergerak dalam berkreasi untuk memajukan bangsa. Terimakasih telah hadir di postingan ini.

Posting Komentar